Aksara Batak
Warisan budaya tulis masyarakat Batak di Sumatera Utara yang merekam sejarah, adat, dan pengetahuan leluhur.


Sejarah Singkat
Aksara Batak adalah sistem tulisan tradisional yang digunakan oleh berbagai sub-suku Batak di Sumatera Utara. Aksara ini digunakan untuk menulis pada naskah pustaha, ukiran kayu, kain, dan media lainnya. Tulisan ini diyakini telah digunakan sejak ratusan tahun lalu untuk menyimpan pengetahuan, cerita rakyat, dan catatan adat.
Penggunaan aksara Batak menurun setelah masuknya alfabet Latin melalui pendidikan kolonial, namun hingga kini aksara ini masih dipelajari dan dilestarikan.
Penggunaan Menurut Suku

Batak Toba
Kelompok terbesar; pusat budaya di sekitar Danau Toba. Terkenal dengan Pustaha, Gondang Sabangunan, dan Rumah Bolon.

Batak Dairi
Kuat dalam tradisi tutur, ukiran kayu, serta motif kain oles yang khas.

Batak Mandailing
Beririsan budaya dengan Minangkabau; kuat dalam tradisi gordang sambilan dan adat dalihan na tolu.

Batak Simalungun
Memiliki tradisi musik gonrang sipitu-pitu dan ragam busana adat berwarna kontras.

Batak Karo
Dikenal dengan Gendang Lima Sedalanen dan rumah adat berarsitektur khas dengan tanduk di atapnya.
Struktur & Bentuk Huruf
Aksara Batak terdiri dari huruf dasar yang dapat dimodifikasi dengan tanda diakritik untuk menghasilkan bunyi vokal yang berbeda. Selain itu, terdapat tanda baca dan simbol khusus yang digunakan dalam penulisan.
- Huruf dasar: melambangkan bunyi konsonan dengan vokal inheren.
- Diakritik: mengubah vokal atau menutup suku kata.
- Tanda baca: digunakan untuk memisahkan kalimat atau frasa.
Cara Penulisan
Aksara Batak ditulis dari kiri ke kanan, tanpa spasi antar kata. Kata-kata biasanya dibedakan melalui konteks atau tanda baca tradisional.
Fungsi & Konteks Budaya
Aksara Batak digunakan dalam berbagai konteks budaya seperti:
- Penulisan naskah pustaha berisi ramuan obat, mantra, dan adat.
- Surat pribadi antar keluarga atau kerabat.
- Ukiran pada rumah adat, alat musik, dan benda upacara.